KALTARAONE.COM, JAKARTA — Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara mengerahkan total 11 pesawat angkut untuk menjalankan misi penanggulangan darurat bencana kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia, Kamis (29/10/2026).
Operasi udara berskala besar ini difokuskan pada wilayah-wilayah rawan seperti Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan yang mengalami peningkatan titik panas. Pengerahan alutsista tersebut dikoordinasikan secara terpusat untuk menekan laju kebakaran lahan gambut sekaligus mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi yang mengancam kesehatan masyarakat dan kelancaran aktivitas penerbangan sipil.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama TNI Ardi Syahri menjelaskan bahwa pengerahan armada udara ini merupakan bentuk respons cepat militer dalam membantu penanganan darurat nasional bersama instansi terkait.
“Sebanyak 11 pesawat angkut berbagai jenis dikerahkan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca dan water bombing di sejumlah wilayah yang terdampak karhutla dan potensi bencana hidrometeorologi.”
— Marsekal Pertama TNI Ardi Syahri
Armada yang diterjunkan melibatkan pesawat dari empat skadron berbeda, mencakup jenis C-130 Hercules, CN-295, hingga C-212 Aviocar yang disiagakan di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan Roesmin Nurjadin. Pesawat-pesawat tersebut mengangkut logistik darurat, peralatan pemadaman, serta bertindak sebagai pengantar bahan semai garam untuk kebutuhan teknologi modifikasi cuaca di atas awan potensial.
Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca menuntut koordinasi ketat antara penerbang militer dan lembaga meteorologi guna membaca pergerakan awan cumulonimbus setiap harinya. Kehadiran armada udara ini diharapkan mampu memicu hujan buatan untuk memadamkan titik api secara alami dari udara sebelum menjalar semakin luas ke kawasan pemukiman warga.
Pihak TNI Angkatan Udara memastikan seluruh awak pesawat dan teknisi siaga selama 24 jam penuh untuk mengantisipasi eskalasi bencana di lapangan meskipun harus menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan jarak pandang terbatas akibat pekatnya kabut asap.
“Operasi ini akan terus berlanjut hingga situasi benar-benar aman dan terkendali. Kami berkomitmen untuk selalu hadir dan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada demi keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan.”
— Marsekal Pertama TNI Ardi Syahri
Operasi darurat ini juga didukung oleh satuan tugas darat dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang bahu-membahu memadamkan api di titik-titik yang sulit dijangkau kendaraan besar. Evaluasi berkala terus dilakukan setiap hari guna mengukur tingkat penurunan jumlah titik panas serta volume air hujan yang berhasil diturunkan ke bumi.
Ringkasan
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) mengerahkan 11 pesawat angkut untuk menanggulangi kebakaran hutan dan lahan serta cuaca ekstrem di Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan pada Kamis, 29 Oktober 2026, guna menekan laju titik panas dan mencegah bencana hidrometeorologi.
Armada yang melibatkan jenis C-130 Hercules, CN-295, dan C-212 Aviocar ini bertugas melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menebar garam serta water bombing, dikoordinasikan secara terpusat dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan Roesmin Nurjadin.
Operasi darurat yang didukung oleh satgas gabungan ini akan terus dilanjutkan siaga 24 jam penuh hingga situasi benar-benar aman dan terkendali untuk melindungi keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan.







