26 C
Tarakan
Selasa, Oktober 27, 2026

Kenapa Ada Orang yang Ingat Mimpi dan Ada yang Tidak?

KALTARAONE.COM, JAKARTA — Perbedaan kemampuan seseorang dalam mengingat mimpi saat bangun tidur ternyata bukan disebabkan oleh kondisi kesehatan mental, melainkan dipicu oleh variasi aktivitas saraf di dalam otak, Selasa (27/10/2026).

Banyak orang merasa tidak pernah bermimpi sama sekali, padahal secara fisiologis, setiap manusia normal rata-rata menghabiskan waktu satu hingga dua jam setiap malam untuk bermimpi selama fase Rapid Eye Movement (REM). Fenomena ini menjadi teka-teki yang terus diteliti oleh para ahli saraf guna memahami bagaimana otak manusia mengelola memori dan kesadaran saat beristirahat.

Penelitian neurologis menunjukkan bahwa individu yang mampu mengingat mimpi dengan detail memiliki aktivitas yang lebih tinggi di area otak yang disebut temporoparietal junction. Area ini berfungsi sebagai pusat pemrosesan informasi yang menggabungkan berbagai input sensorik. Tingginya aktivitas di bagian ini membuat otak seseorang lebih sensitif terhadap rangsangan, sehingga mereka lebih mudah terbangun sejenak di tengah malam.

Jeda terbangun yang singkat inilah yang menjadi kunci. Tanpa adanya momen terbangun tersebut, otak tidak memiliki kesempatan untuk memindahkan jejak ingatan mimpi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang sebelum orang tersebut benar-benar tersadar sepenuhnya di pagi hari.

  • Aktivitas temporoparietal junction yang tinggi mempermudah retensi memori mimpi.
  • Mimpi terjadi secara rutin pada setiap individu selama fase tidur REM.
  • Proses penyimpanan memori mimpi membutuhkan jeda terbangun singkat di malam hari.

Dr. Deirdre Leigh Barrett, seorang profesor psikologi di Harvard Medical School, menjelaskan bahwa faktor kepribadian juga turut menentukan seberapa besar perhatian seseorang terhadap dunia batin mereka. Menurut Barrett, mereka yang memiliki kecenderungan introspektif atau lebih fokus pada dunia fantasi cenderung lebih mudah menangkap narasi mimpi dibandingkan mereka yang berorientasi pada tindakan eksternal.

“Orang yang lebih introvert dan fokus ke dunia batin cenderung lebih mudah mengingat mimpi, sedangkan mereka yang lebih ekstrovert dan berorientasi tindakan cenderung lebih sedikit mengingat mimpi.”

— Deirdre Leigh Barrett

Selain faktor neurologis dan kepribadian, intensitas emosional dalam mimpi juga memengaruhi daya ingat. Otak manusia secara evolusioner diprogram untuk memprioritaskan memori yang memiliki muatan emosional kuat, seperti rasa takut atau gembira. Mimpi yang terasa sangat nyata sering kali dipicu oleh beban pikiran atau emosi yang dirasakan individu sepanjang hari, sehingga otak memberikan perhatian khusus untuk menyimpan ingatan tersebut.

Sekitar 80 persen orang yang terbangun saat berada di tengah fase tidur REM dilaporkan mampu menceritakan kembali isi mimpi mereka dengan detail yang cukup akurat.

Bagi mereka yang ingin melatih kemampuan mengingat mimpi, para ahli menyarankan untuk mengubah kebiasaan saat pertama kali membuka mata. Menuliskan fragmen mimpi di jurnal pribadi segera setelah bangun tidur dapat melatih otak untuk memprioritaskan informasi yang didapat dari tidur sebagai data yang perlu disimpan secara permanen.

“Mengingat mimpi adalah keterampilan yang bisa dilatih dengan konsistensi dan perhatian penuh saat baru terbangun.”

Meski tidak mengingat mimpi sering dianggap sebagai tanda kualitas tidur yang sangat nyenyak, hal tersebut bukanlah indikasi adanya gangguan kesehatan. Mimpi hanyalah produk sampingan dari proses pembersihan informasi dan pemrosesan emosi di otak. Bagi individu yang tidak mengingat mimpi, proses restorasi emosional ini tetap berjalan secara efisien di tingkat bawah sadar tanpa perlu mengganggu kesadaran saat terjaga.

Letakkan buku catatan atau alat perekam suara di samping tempat tidur agar Anda bisa segera mengabadikan detail mimpi sebelum memori tersebut memudar saat beranjak dari kasur.

Pada akhirnya, perbedaan ini hanyalah variasi normal dari fungsi otak manusia. Ketiadaan memori mimpi tidak berarti seseorang kehilangan fungsi pemrosesan emosional, melainkan menunjukkan bahwa otak mereka bekerja dengan lebih senyap dalam memisahkan aktivitas tidur dari kesadaran penuh saat bangun.

Ringkasan

Para ahli saraf mengungkapkan bahwa perbedaan kemampuan seseorang dalam mengingat mimpi, yang dilaporkan di Jakarta pada Selasa (27/10/2026), disebabkan oleh variasi aktivitas saraf di otak dan bukan karena masalah kesehatan mental. Fenomena ini terjadi karena perbedaan sensitivitas otak terhadap rangsangan yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk terbangun sejenak guna menyimpan memori mimpi.

Individu yang mudah mengingat mimpi memiliki aktivitas lebih tinggi pada area temporoparietal junction, yang memungkinkan otak lebih sensitif terhadap rangsangan dan memicu jeda terbangun singkat di malam hari. Jeda terbangun ini krusial untuk memindahkan jejak ingatan mimpi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang sebelum seseorang tersadar sepenuhnya.

Selain faktor neurologis, kemampuan mengingat mimpi juga dipengaruhi oleh faktor kepribadian yang introspektif serta intensitas emosional dari mimpi itu sendiri. Bagi mereka yang ingin meningkatkan kemampuan ini, para ahli menyarankan untuk segera mencatat fragmen mimpi di jurnal pribadi sesaat setelah bangun tidur guna melatih otak menyimpan informasi tersebut secara permanen.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

22,044FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles