25.2 C
Tarakan
Senin, Oktober 26, 2026

Bahaya Makan Terlalu Cepat: Ini 5 Dampak Buruk bagi Kesehatan

KALTARAONE.COM, JAKARTA — Sejumlah ahli kesehatan mengingatkan masyarakat agar menghentikan kebiasaan menyantap hidangan secara terburu-buru guna mencegah berbagai gangguan fisiologis yang dipicu oleh keterlambatan sinyal kenyang dari lambung ke otak, Minggu (25/10/2026).

Aktivitas harian yang padat sering kali mendorong masyarakat untuk mengonsumsi makanan dalam tempo singkat tanpa proses pengunyahan yang optimal di dalam rongga mulut. Padahal, ritme makan yang terlalu cepat dapat memicu lonjakan porsi secara drastis sebelum organ pencernaan sempat mengirimkan sinyal hormonal bahwa perut telah terisi penuh.

“Ketika seseorang makan terlalu cepat, sinyal kenyang yang dikirimkan oleh lambung ke otak sering kali datang terlambat sehingga porsi yang dikonsumsi melebihi kebutuhan tubuh,” ujar dr. Amelia Putri, seorang ahli gizi klinis, saat ditemui di Jakarta, Minggu (25/10/2026).

Dampak pertama dan paling nyata dari pola makan tersebut adalah peningkatan risiko kenaikan berat badan hingga obesitas. Otak manusia memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk menerima informasi hormonal dari saluran pencernaan, sehingga individu yang menghabiskan makanannya dalam hitungan menit cenderung memasukkan kalori berlebih tanpa disadari.

Selain persoalan berat badan, proses pencernaan bagian atas juga akan mengalami tekanan berat akibat partikel makanan yang masih berukuran besar. Lambung terpaksa memproduksi asam lambung dalam jumlah berlebih, yang berpotensi memicu masalah kembung, begah, serta naiknya asam lambung ke kerongkongan.

Makan terlalu cepat memperbesar risiko kenaikan berat badan karena porsi makanan menjadi tidak terkontrol.

Gangguan metabolik lanjutan yang patut diwaspadai meliputi lonjakan kadar gula darah secara drastis setelah makan dalam porsi besar. Fluktuasi glukosa yang terjadi secara terus-menerus memaksa pankreas bekerja lebih keras dalam memproduksi insulin, yang lambat laun memicu resistensi insulin serta meningkatkan kerentanan terhadap diabetes tipe 2.

“Proses pengunyahan yang singkat juga membuat penyerapan nutrisi menjadi tidak maksimal karena enzim pencernaan di dalam air liur gagal memecah zat gizi secara merata,” kata Prof. Hendra Wijaya, seorang spesialis penyakit dalam, Minggu (25/10/2026).

Untuk menghindari berbagai risiko kesehatan tersebut, para ahli menyarankan agar masyarakat mulai membiasakan diri meluangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit setiap kali makan. Mengunyah makanan secara perlahan dan meletakkan alat makan di antara suapan terbukti efektif membantu lambung mengenali batas kenyang secara lebih akurat.

Ringkasan

Sejumlah ahli kesehatan di Jakarta memperingatkan masyarakat pada Minggu (25/10/2026) untuk menghentikan kebiasaan makan terlalu cepat guna mencegah berbagai gangguan fisiologis akibat keterlambatan sinyal kenyang dari lambung ke otak.

Kebiasaan makan terburu-buru dan kurangnya pengunyahan optimal dapat memicu lonjakan porsi makan, yang berdampak langsung pada peningkatan risiko obesitas, gangguan pencernaan seperti naiknya asam lambung, serta lonjakan gula darah yang berpotensi menyebabkan resistensi insulin.

Untuk menghindari dampak buruk tersebut, para ahli menyarankan masyarakat agar meluangkan waktu 20 hingga 30 menit setiap kali makan dengan cara mengunyah secara perlahan agar lambung dapat mengirimkan sinyal kenyang secara akurat.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

22,044FansSuka
3,912PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles