KALTARAONE.COM, TARAKAN — Kebiasaan menggunakan minyak goreng secara berulang kali demi menghemat pengeluaran dapur kerap dilakukan oleh sebagian besar rumah tangga maupun pelaku usaha kuliner, namun di balik efisiensi tersebut tersimpan ancaman serius bagi kesehatan jantung akibat perubahan struktur kimia yang terjadi setelah melalui proses pemanasan berulang, Senin (26/10/2026).
Pakar teknologi pangan menjelaskan bahwa minyak goreng yang dipanaskan terus-menerus akan mengalami degradasi termal dan oksidasi. Proses ini memicu terbentuknya radikal bebas, peroksida lipid, serta senyawa polar yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL dalam darah secara signifikan jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
“Penggunaan ulang minyak goreng sebenarnya bisa dilakukan, namun harus dengan batasan yang ketat agar senyawa berbahaya tidak menumpuk di dalam tubuh,” ujar Jennifer Pallian melalui panduan keamanan pangannya.
Secara umum, para ahli menyarankan agar minyak goreng sebaiknya hanya dipakai sebanyak dua hingga tiga kali penggorengan saja. Lebih dari batasan tersebut, minyak akan kehilangan kualitas nutrisinya dan berubah menjadi zat yang berpotensi memicu peradangan kronis hingga peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.
Minyak goreng yang digunakan lebih dari tiga kali secara beruntun cenderung memiliki tingkat oksidasi tinggi yang memicu berbagai penyakit degeneratif.
Selain frekuensi pemakaian, pengenalan terhadap tanda fisik minyak jelantah sangat krusial untuk mencegah paparan racun pada makanan. Chef Ragil Imam Wibowo menambahkan bahwa pemilihan jenis minyak dengan titik asap tinggi serta penanganan yang tepat pasca-memasak dapat memperpanjang usia pakai minyak secara aman.
“Jenis minyak dengan titik panas tinggi adalah pilihan terbaik jika ingin dipakai ulang, asalkan disimpan dengan benar dan disaring dari sisa makanan,” kata Chef Ragil Imam Wibowo.
Langkah penyimpanan juga memegang peranan penting dalam menjaga kualitas minyak sisa agar tidak cepat tengik. Minyak harus didinginkan terlebih dahulu sebelum disaring menggunakan saringan halus, lalu disimpan dalam wadah tertutup rapat di tempat yang sejuk dan terhindar dari paparan cahaya matahari langsung.
- Maksimal penggunaan minyak goreng adalah dua hingga tiga kali.
- Warna gelap dan bau tengik menandakan minyak harus segera dibuang.
- Penyimpanan di tempat tertutup mencegah oksidasi lanjutan.
Masyarakat diimbau untuk lebih cermat dan tidak memaksakan penggunaan minyak yang sudah menunjukkan perubahan fisik ekstrem demi kesehatan jangka panjang keluarga di rumah.
Ringkasan
Pakar kesehatan dan kuliner mengingatkan masyarakat di Tarakan pada Senin (26/10/2026) agar menghentikan kebiasaan menggunakan minyak goreng secara berulang kali karena dapat memicu ancaman serius bagi kesehatan jantung akibat perubahan struktur kimia.
Minyak goreng yang dipanaskan secara terus-menerus mengalami degradasi termal dan oksidasi yang membentuk radikal bebas serta senyawa polar, sehingga para ahli menyarankan batas maksimal pemakaian hanya dua hingga tiga kali saja untuk menghindari peningkatan kolesterol jahat (LDL).
Untuk meminimalkan risiko kesehatan, masyarakat diimbau agar lebih cermat mengenali ciri fisik minyak jelantah seperti warna gelap dan bau tengik, serta menerapkan metode penyaringan dan penyimpanan yang tepat dalam wadah tertutup di tempat sejuk.







