KALTARAONE.COM, JAKARTA — Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memulai langkah strategis untuk memperkuat identitas budaya daerah di kancah nasional melalui pengembangan fasilitas Anjungan Kalimantan Utara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, dengan menambah replika rumah adat suku Tidung dan Dayak, Jumat (30/10/2026).
Proyek ini dirancang sebagai upaya revitalisasi untuk menciptakan kawasan budaya terpadu yang lebih representatif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Pengembangan ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai kekayaan etnik yang dimiliki provinsi termuda di Indonesia tersebut, sekaligus memperkuat fungsi anjungan sebagai pusat promosi seni, budaya, hingga potensi investasi dan produk UMKM lokal di ibu kota negara.
Kepala Badan Penghubung Kaltara, Tasrif, menegaskan bahwa penambahan fasilitas ini merupakan langkah krusial dalam memperkaya narasi budaya daerah. Selama ini, anjungan tersebut baru menampilkan Rumah Adat Baloy, namun dengan adanya penambahan dua rumah adat baru, kawasan ini akan menjadi etalase yang lebih lengkap bagi masyarakat luas untuk mengenal filosofi serta arsitektur tradisional Kaltara.
“Pengembangan ini untuk memperkaya representasi budaya Kaltara di tingkat nasional, mengingat TMII adalah etalase kebudayaan Indonesia.”
— Tasrif
Lebih lanjut, Tasrif menjelaskan bahwa pembangunan ini tidak hanya terbatas pada struktur fisik bangunan semata. Pihaknya berencana melengkapi area anjungan dengan berbagai artefak budaya, koleksi pakaian adat, alat musik tradisional, hingga sistem informasi digital yang interaktif. Langkah ini diambil agar setiap pengunjung mendapatkan pengalaman edukatif yang mendalam mengenai keberagaman suku yang mendiami wilayah Kalimantan Utara.
Terkait teknis pelaksanaan, Pemerintah Provinsi Kaltara telah melibatkan para tokoh adat dan budayawan lokal dalam fase perencanaan serta desain. Keterlibatan para ahli ini dinilai sangat penting untuk memastikan bahwa setiap elemen arsitektur, mulai dari detail ukiran hingga struktur utama bangunan, tetap memegang teguh pakem asli yang diwariskan secara turun-temurun.
- Penambahan rumah adat suku Tidung dan Dayak di TMII.
- Integrasi artefak budaya dan informasi digital potensi daerah.
- Pelibatan budayawan lokal untuk menjamin otentisitas arsitektur.
Dalam proses pengembangannya, manajemen TMII telah memberikan dukungan penuh terhadap usulan perluasan lahan dan pengembangan kawasan terpadu tersebut. Sinergi antara pemerintah daerah dan pengelola TMII diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek agar segera dapat dinikmati oleh publik. Selain sebagai sarana wisata, anjungan ini nantinya akan difungsikan sebagai ruang pameran temporer bagi kerajinan tangan khas Kaltara, seperti kain tenun dan anyaman, yang diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi langsung bagi para perajin lokal.
Nantinya, anjungan akan memiliki 3 ikon arsitektur tradisional utama yang merepresentasikan suku-suku asli di Kalimantan Utara.
Pemerintah provinsi tetap berkomitmen untuk menyelesaikan pengerjaan fisik bangunan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Meskipun terdapat tantangan logistik dalam pengadaan material tradisional, koordinasi intensif dengan berbagai instansi terkait terus dilakukan agar proses pembangunan tidak mengganggu operasional harian anjungan yang sudah ada sebelumnya.
“Kami ingin agar wisatawan atau masyarakat yang berkunjung ke TMII bisa mendapatkan gambaran utuh tentang keragaman budaya di Kaltara hanya dalam satu kunjungan.”
— Tasrif
Kehadiran rumah adat baru ini juga diharapkan mampu meningkatkan angka kunjungan ke Anjungan Kalimantan Utara secara signifikan. Sejak TMII menjalani transformasi menjadi kawasan yang lebih modern dan inklusif, minat masyarakat untuk melakukan wisata edukasi budaya menunjukkan tren yang positif. Pemerintah daerah menargetkan agar wajah baru anjungan ini dapat segera dirasakan oleh masyarakat, sehingga citra Kalimantan Utara sebagai provinsi yang kaya akan nilai kebinekaan semakin menguat di tingkat nasional.
Ke depan, pemeliharaan fasilitas ini akan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat perantau asal Kalimantan Utara di Jakarta. Rasa kepemilikan yang tinggi dari diaspora diharapkan dapat menjaga keberlangsungan kegiatan budaya di anjungan tersebut, menjadikannya ruang dialog lintas budaya yang dinamis, serta menjadi simbol kebanggaan bagi seluruh rakyat Kalimantan Utara dalam merawat warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Ringkasan
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara memulai pengembangan Anjungan Kaltara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada Jumat (30/10/2026) dengan membangun replika rumah adat suku Tidung dan Dayak untuk memperkuat identitas budaya daerah di tingkat nasional.
Proyek revitalisasi ini bertujuan menjadikan anjungan sebagai pusat edukasi budaya yang komprehensif, yang dilengkapi dengan artefak tradisional, koleksi pakaian adat, serta sistem informasi digital untuk mempromosikan potensi daerah dan produk UMKM lokal. Proses pembangunan melibatkan para tokoh adat dan budayawan lokal guna memastikan otentisitas arsitektur bangunan tetap terjaga sesuai pakem tradisional.
Sinergi dengan manajemen TMII diharapkan dapat mempercepat penyelesaian proyek, sehingga nantinya kawasan ini memiliki tiga ikon arsitektur utama yang berfungsi sebagai etalase keragaman suku di Kalimantan Utara bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.







