Natal Kerukunan Sanggalangi Tarakan, Rawat Persatuan di Tanah Rantau

KALTARAONE.COM, TARAKAN — Kerukunan Keluarga Sanggalangi Kota Tarakan menggelar Ibadah dan Perayaan Natal di Gereja Toraja Jemaat Pniel, Kampung Bugis, Kecamatan Tarakan Barat, Sabtu (24/1/2026). Perayaan natal menjadi penguatan iman sekaligus mempererat persaudaraan warga Sanggalangi yang hidup di tanah rantau.

Ibadah Natal mengusung tema “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga” yang diambil dari Alkitab Matius 1:21–24. Ibadah berlangsung khidmat dan diikuti jemaat serta anggota kerukunan dari berbagai latar belakang.

Ketua Kerukunan Keluarga Sanggalangi Kota Tarakan, Yohanes Patongloan, S.H., menjelaskan bahwa Kerukunan Sanggalangi merupakan wadah silaturahmi warga asal Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, yang kini menetap di Tarakan.

“Perkumpulan Sanggalangi ini menjadi wadah kebersamaan bagi warga dari tujuh kecamatan di Sanggalangi. Di Tarakan sendiri jumlahnya sekitar 303 kepala keluarga, dengan total warga kurang lebih 1.000 jiwa,” ujar Yohanes.

Menurut Yohanes, keberadaan kerukunan bertujuan memperkuat koordinasi antarwarga, baik dalam situasi kedukaan maupun dalam menghadapi persoalan hidup sehari-hari. Selain itu, kerukunan juga menjadi sarana membangun keharmonisan dengan masyarakat lokal Kota Tarakan.

“Kami selalu menekankan pentingnya hidup berdampingan dan menghargai kearifan lokal yang ada di Kota Tarakan,” kata Yohanes yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang di Dinas Lingkungan Hidup Kota Tarakan.

Ia berharap ke depan Kerukunan Keluarga Sanggalangi terus berperan aktif membantu pemerintah, baik dalam menjaga ketertiban masyarakat maupun mendukung pembangunan daerah, termasuk dalam upaya pelestarian lingkungan.

“Kami sudah menghimbau seluruh anggota agar menjaga kebersihan lingkungan dan ikut menjaga kelestarian alam,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Natal Kerukunan Keluarga Sanggalangi, Marthen Buri, S.H., menyampaikan kepanitiaan Natal telah dibentuk sejak Agustus 2025. Ia menyebut kerukunan bersifat inklusif dan tidak membedakan latar belakang agama.

“Anggota kerukunan saat ini sekitar 303 kepala keluarga. Kami tidak membedakan Kristen atau Muslim. Semua bersatu dalam Kerukunan Keluarga Sanggalangi,” ujarnya.

Ibadah Natal terlaksana secara sederhana namun bermakna, turut dihadiri pendeta dan majelis Gereja Toraja Jemaat Pniel, perwakilan Jemaat Betlehem, jemaat Gereja Toraja lainnya di Kota Tarakan, serta perwakilan paguyuban dan kerukunan masyarakat.

Pendeta Gereja Toraja Jemaat Pniel Tarakan, Pdt. Dorkas Napang, S.Th., dalam khotbahnya menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan, khususnya bagi warga yang hidup di perantauan.

“Di rantau, persaudaraan harus semakin kuat. Kita terus mendoakan para pemimpin, baik di daerah, nasional dan seluruh dunia, agar kehidupan tetap aman dan damai,” tutur Pdt. Dorkas.

Perayaan Natal Kerukunan Keluarga Sanggalangi ini diharapkan semakin mempererat hubungan antarwarga serta memperkuat kontribusi positif komunitas dalam menjaga kerukunan dan kedamaian di Kota Tarakan. (AR)